Pemerintah Vietnam secara aktif mendorong pemanfaatan teknologi canggih seperti kecerdasan buatan (AI) dan analisis data besar untuk membangun ekosistem pariwisata yang lebih cerdas. Strategi nasional ini mencakup integrasi digital dalam berbagai aspek, mulai dari manajemen destinasi hingga peningkatan kualitas layanan bagi pengunjung.
Salah satu manifestasi nyata dari tren ini adalah sistem e-Visa yang telah disederhanakan dan diperluas. Warga negara Indonesia dapat memanfaatkan fasilitas bebas visa untuk kunjungan hingga 30 hari. Bagi yang ingin menjelajahi Vietnam lebih lama, e-Visa untuk masa tinggal hingga 90 hari dengan beberapa kali masuk (multiple entry) tersedia, menawarkan kemudahan dalam perencanaan perjalanan. Proses aplikasi yang sepenuhnya daring ini menghilangkan kebutuhan untuk kunjungan langsung ke kedutaan atau konsulat, menjadikan proses masuk ke Vietnam lebih efisien.
Selain visa, upaya digitalisasi juga terlihat dalam pengembangan platform pintar untuk informasi wisata, sistem pembayaran nirsentuh, dan aplikasi pendukung perjalanan yang membantu wisatawan menavigasi destinasi dengan lebih mudah. Kota-kota seperti Hanoi dan Da Nang secara proaktif mengembangkan basis data pariwisata bersama dan memanfaatkan teknologi virtual reality (VR) dan AI untuk promosi destinasi. Hal ini menunjukkan komitmen Vietnam untuk beradaptasi dengan tuntutan wisatawan modern yang menginginkan layanan cepat, personal, dan berbasis seluler.
Transformasi digital ini juga selaras dengan tujuan Vietnam untuk mengembangkan pariwisata berkelanjutan dan mendorong praktik wisata sirkular. Dengan mengurangi dampak lingkungan dan meningkatkan partisipasi komunitas lokal, Vietnam berupaya menjadikan keberlanjutan sebagai ciri khas industri pariwisatanya.
Secara keseluruhan, komitmen Vietnam terhadap inovasi digital menjanjikan pengalaman berlibur yang lebih nyaman, aman, dan mendalam bagi turis Indonesia yang ingin menjelajahi kekayaan budaya dan keindahan alam negara ini.
Photo by Mike Swigunski on Unsplash