Kalau Anda sedang menabung untuk melihat Pegunungan Alpen, kabar ini perlu masuk hitungan. Switzerland Tourism menyebut liburan ke Swiss tahun ini sekitar 9 persen lebih mahal bagi wisatawan Indonesia dibanding tahun lalu, terutama karena rupiah melemah terhadap franc Swiss. Angka itu disampaikan dalam Switzerland Tourism Annual Media Briefing 2026 di Jakarta pada Selasa, 3 November 2026.
Pada Agustus 2025, satu franc Swiss (CHF) setara sekitar Rp 20.507. Setahun kemudian, pada Agustus 2026, angkanya naik menjadi sekitar Rp 22.339. Artinya, rupiah melemah kurang lebih 8,93 persen terhadap franc, dan pihak Swiss Tourism membulatkannya menjadi sekitar 9 persen.
Apa yang Terjadi
Ferani Heng, Market Representative Switzerland Tourism untuk Indonesia, mengatakan banyak traveler Indonesia akhirnya mengganti destinasi, kemungkinan ke tempat yang lebih murah atau lebih dekat. Selain kurs, ia menyebut konflik di Timur Tengah serta ketidakpastian politik dan ekonomi sebagai penyebab utama. Saat konflik pertama kali pecah pada Februari 2026, banyak penerbangan dibatalkan.
Duta Besar Swiss yang baru untuk Indonesia, Timor Leste dan ASEAN, Konstantin Obolensky, menambahkan bahwa harga bahan bakar dan avtur juga naik, sehingga ongkos perjalanan ikut terdongkrak.
Angka kunjungan turun tajam
Switzerland Tourism menghitung jumlah malam menginap, bukan sekadar kedatangan atau transit. Datanya seperti ini:
- Januari sampai Agustus 2026: 35.124 malam menginap dari wisatawan Indonesia, turun 38,7 persen dari 57.255 malam pada periode yang sama tahun 2025.
- Indonesia berada di urutan terakhir dari lima pasar Asia Tenggara, dengan porsi 11 persen. Singapura memimpin (34,8 persen), disusul Thailand (25,8 persen), Malaysia (17 persen) dan Filipina (11,4 persen).
- Seluruh Asia Tenggara mencatat 282.831 malam menginap, turun 21,3 persen.
- Saat musim Lebaran, kunjungan dari Indonesia tercatat 10.444 pada 2025, lalu turun menjadi 6.765 pada 2026.
Penurunan ini sejalan dengan data Badan Pusat Statistik (BPS). Perjalanan penduduk Indonesia ke luar negeri pada Januari sampai Agustus 2026 tercatat 5,90 juta, turun 3,56 persen dari 6,12 juta pada periode yang sama tahun lalu. Deputi BPS Ateng Hartono menyebut rupiah yang melemah, ketidakpastian geopolitik, berkurangnya penerbangan internasional dan tiket pesawat yang mahal sebagai faktor penyebabnya. Asap kebakaran hutan dan lahan pada September juga sempat mengganggu penerbangan internasional.
Visa Tetap Berbayar
Satu hal yang tidak berubah: pemegang paspor Indonesia tetap perlu visa Schengen untuk ke Swiss. Obolensky menegaskan visa tidak gratis dan Swiss tidak punya rencana untuk menggratiskannya. Menurutnya, biaya visa hanya bagian kecil dari total anggaran perjalanan. Belum ada pula rencana bebas visa untuk paspor Indonesia.
Berdasarkan halaman resmi VFS Global untuk visa Swiss di Indonesia, biayanya sebagai berikut:
| Komponen | Biaya |
|---|---|
| Visa kunjungan singkat, dewasa | Rp 1.740.000 |
| Visa anak usia 6 sampai 12 tahun | Rp 870.000 |
| Anak di bawah 6 tahun | Gratis |
| Biaya layanan VFS (termasuk PPN), per pemohon | Rp 295.000 |
| Total untuk satu orang dewasa | Rp 2.035.000 |
Biaya rupiah di atas adalah padanan dari tarif resmi Uni Eropa, yaitu 90 euro untuk dewasa dan 45 euro untuk anak usia 6 sampai 12 tahun. Mengajukan lewat VFS sebenarnya tidak wajib. Kedutaan Swiss menyebut pemohon juga bisa datang langsung ke perwakilan Swiss, tetapi janji temunya tetap dipesan lewat VFS.
Apa Artinya bagi Dompet Anda
Supaya lebih terasa, coba hitung dengan anggaran harian di Swiss. Uang 1.000 franc yang dulu setara sekitar Rp 20.507.000 (kurs Agustus 2025) kini setara sekitar Rp 22.339.000 (kurs Agustus 2026). Selisihnya sekitar Rp 1.832.000 untuk setiap 1.000 franc yang Anda belanjakan, tanpa Anda membeli apa pun yang lebih mewah.
Tambahkan biaya visa dan layanan VFS sekitar Rp 2.035.000 per orang, lalu tiket pesawat. Obolensky juga menyebut belum ada rencana konkret penerbangan langsung Jakarta ke Swiss yang ia dengar, jadi perjalanan tetap lewat transit.
Menurut data Switzerland Tourism, kunjungan wisatawan Indonesia biasanya berlangsung 5 sampai 7 hari, dengan tiga tujuan teratas Zurich, Jenewa dan Zermatt. Minat ke St. Moritz, Luzern dan kawasan Jungfrau juga disebut sedang naik.
Tips Supaya Tetap Bisa ke Swiss
1. Urus visa dengan jadwal yang aman
Aturan Uni Eropa menyebut permohonan visa Schengen paling lambat diajukan 15 hari sebelum berangkat dan paling cepat 6 bulan sebelumnya. VFS menyebut proses biasanya 15 hari kerja dan menyarankan pengajuan minimal empat minggu sebelum tanggal keberangkatan. Waktu proses bisa lebih lama kalau pemohon perlu wawancara. Jangan lupa asuransi perjalanan dengan pertanggungan minimal 30.000 euro untuk biaya medis dan repatriasi.
2. Andalkan transportasi umum
Obolensky sendiri menyarankan transportasi umum, yaitu kereta dan bus, sebagai cara terbaik untuk berkeliling Swiss. Bagi backpacker, ini juga cara paling masuk akal untuk menggabungkan kota dan pegunungan dalam satu perjalanan.
3. Manfaatkan filter ramah Muslim
Swiss tidak punya sertifikasi halal nasional. Sebagai gantinya, situs resmi Switzerland Tourism menyediakan filter untuk restoran, penginapan dan atraksi ramah Muslim, yaitu yang tidak memakai babi, minyak babi atau alkohol sebagai bahan. Beberapa hotel mitra juga bisa menyiapkan sajadah dan mengeluarkan alkohol dari minibar jika diminta sebelum tamu tiba. Sebagian hotel menyajikan daging bersertifikat halal yang diimpor dari luar Swiss.
4. Pantau kurs sebelum menukar uang
Karena selisih kurs yang membuat biaya naik, ada baiknya Anda memantau nilai franc terhadap rupiah selama beberapa minggu sebelum berangkat, lalu menukar sebagian uang saat kurs sedang lebih bersahabat. Angka kurs di artikel ini adalah data Agustus 2025 dan Agustus 2026 dari Switzerland Tourism, jadi cek lagi kurs terbaru saat Anda membuat anggaran.
5. Lirik musim dingin di luar ski
Switzerland Tourism sedang mempromosikan kampanye "Beyond the Snow: A Swiss Winter for the Senses", yang menonjolkan museum, festival budaya, kota bersejarah dan kuliner seperti fondue dan cokelat, bukan hanya salju dan ski. Salah satu contohnya Basler Fasnacht, karnaval di Basel menjelang akhir musim dingin dengan parade drum dan piccolo.
Swiss memang tidak pernah jadi destinasi murah, dan kurs tahun ini membuatnya sedikit lebih berat. Saran saya, susun anggaran dengan kurs terbaru, siapkan dana cadangan, dan urus visa jauh hari supaya Anda tidak terjebak harga tiket mendadak.
Sumber
- Kompas.com: Rupiah Melemah, Liburan ke Swiss Tahun Ini 9 Persen Lebih Mahal
- IDN Times: Rupiah Melemah, Liburan ke Swiss Makin Mahal bagi WNI
- CNN Indonesia: Efek Karhutla dan Tiket Pesawat, Angka Turis RI ke Luar Negeri Merosot
- VFS Global: Switzerland Visa Information in Indonesia
- European Commission: Applying for a Schengen visa
Foto sampul: Ximonic (Simo Räsänen), CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons.